Jumat, 20 Juni 2014

Perjalanan Menuju Pantai Sawarna

Berawal dari Basecamp Setiawakan saya (SiHuba) dan kawan saya (SiTazam) sibuk membahas yang penuh dengan teori apa itu arti “hidup” sesungguhnya. Tak lupa dengan secangkir kopi hitam yang join timbullah inspirasi dengan semangat yang bertubi-tubi, maka terjawablah arti hidup itu bahwasannya hidup garis besarnya harus dinikmati, dengan beberapa cerita sakit yang kesannya asik (versi saya dan kawan saya), karena itu nanti jadi bahan cerita kepada cucu kita kelak. Walaupun santai akan tetapi pikiran kacau saya dan kawan saya memutuskan untuk ber-backpacker dengan membuat peta perjalanan tujuan kami nantinya.
Peta Backpacker 19 Juni 2014
Packing dengan seadanya yang gak ada apa-apanya, dan kami berdua memulai perjalanan start dengan mengendarai sepeda motor (kereta kalo dikampung saya) “Zufe” dari Basecamp Setiakawan. Perjalanan ini nantinya akan menguji mental dan memacu adrenalin tingkat tinggi. Ini tanpa pun tanpa rencana sebelumnya, karena rasa penasaran ingin tahu dan didorong kopi hitam tentunya.


Ditengah perjalanan tepatnya di indomaret – bogor, kami melengkapi amunisi yang gak ada apa-apanya tadi, tak lupa juga dengan secangkir kopi hitam panas biar semangat bertubi-tubi lagi. yayayaayyaaa


Perjalanan pun kami lanjutkan dari bogor ke arah sukabumi, diperjalanan kali ini macetnya sungguh terlalu sangat menguras tenaga, yang tadinya semangat bertubi menjadi melemas drop. Lemas abang dek kata saya kepada kawan saya...


Sesampainya di Sukabumi kami pun membangkitkan semangat kami dengan berhenti dan singgah diwarung kopi yang seadanya. Yah ngopi lagi dong kita… ketepatan di warung yang seadanya ini ada sesosok peri cantik manis dan hot body. Pesan kopi, kami pun memulai melirik curi curi pandang dan pasang jurus ular masing-masing tujuannya menarik perhatian peri cantik yang hot body itu. Eh, ternyata dan tidak disangka pula si peri itu menunggu anjingnya menjemput, gagal deh ular khas dari binjai. Hanya lucu-lucuan aja sih karena teman saya Tazam ini, player hot dog juga.


Kira-kira lewat Pelabuhan Ratu, kira-kira satu kilometer banyak yang jualan buah disepanjang jalan, untuk kawan yang doyan makan buah bisa membeli sambil  menikmati pemandangan Pantai Pelabuhan Ratu. Kami hanya memilih buah salak, biasa biar gk mencret karena dari awal sampai tengah perjalanan udah disemangatin kopi hitam (lalap).


Setelah melewati beberapa arena tempur yang penuh tantangan debu truk dsb, akhirnya kami sampai di Pantai Pelabuhan Ratu yaitu tujuan pertama kami. Sampai disini kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan lagi. Beristirahat, makan dan ngopi (lalap lagi..) di salah satu warung di pinggir pantai itu. Oh yess, sekitar jam 12 malam kami tiba disini.


Tidak terasa waktu berjalan matahari  pun sudah menyambut pagi dan memancarkan sinarnya, kami pun bergegas untuk menikmati belaian ombak dipinggir pantai yang dimana dari malam sampai pagi kami hanya mendengar hembusan ombak sambil sibuk membahas apa itu arti "hidup". Beberapa poto pun kami selesaikan disini. Kembali bersemangat mata pun segar dan kembali melanjutkan perjalanan menyisir Pantai Legon Pari ke arah selatan.


Disepanjang jalan berikutnya, kita akan menikmati alam, pemandangan pantai pelabuhan ratu dan pemandangan pantai sawarna yang memanjakan mata kita. Karena akan menyisiri pinggiran pantai menuju desa sawarna, kurang lebih  dari 3 jam. Tidak lupa untuk beristrahat ngopi-ngopi dan menikmati pemandangan alam dan pantai sawarna di Puncak Habibie sebelum menelusuri desa sawarna.


Terinspirasi dari secangkir kopi hitam panas yang joins dengan kawan saya, maka terciptalah sebuah cerita yang semenahnya di Desa Sawarna - Bersambung di Pantai Legon PariPantai Tanjung Layar.







Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar